Kelebihan dan Kekurangan VAR dalam Sepak Bola Modern

Gol tercipta, stadion bergemuruh, lalu suasana mendadak tertahan. Wasit menyentuh alat komunikasi di telinganya karena pemeriksaan Video Assistant Referee atau VAR sedang berlangsung.

Teknologi ini dirancang untuk membantu wasit menilai insiden penting dengan lebih akurat. Namun, penerapannya juga memunculkan persoalan baru, mulai dari pertandingan yang terhenti hingga selebrasi gol yang kehilangan spontanitas.

Karena itu, pembahasan kelebihan dan kekurangan VAR tidak bisa berhenti pada anggapan bahwa teknologi selalu benar atau justru merusak sepak bola. VAR terbukti membantu memperbaiki keputusan, tetapi hasil akhirnya tetap bergantung pada manusia yang mengoperasikannya.

Kelebihan Penggunaan VAR dalam Sepak Bola Modern

Wasit meninjau layar monitor untuk mengevaluasi keputusan sebagai bagian dari kelebihan dan kekurangan VAR di sepak bola.

1. Meningkatkan Akurasi Keputusan Wasit

Wasit hanya memiliki beberapa detik untuk menilai sebuah kejadian. Pandangannya bisa tertutup pemain, sementara kontak atau posisi offside terjadi sangat cepat.

Di sinilah teknologi VAR sepak bola memberi manfaat paling nyata. Rekaman dari beberapa sudut kamera membantu wasit meninjau ulang insiden yang berhubungan dengan gol, penalti, kartu merah langsung, dan kesalahan identitas pemain.

Menurut penelitian Joachim Spitz dan tim, penggunaan VAR dalam 2.195 pertandingan di 13 negara meningkatkan ketepatan keputusan dari 92,1% menjadi 98,3%. Penelitian tersebut mencakup 9.732 pemeriksaan dan 795 review.

Penerapan pada Piala Dunia 2018 juga menunjukkan hasil serupa. Dilansir dari FIFA, terdapat 335 pemeriksaan VAR dalam 48 pertandingan fase grup. Sebanyak 17 insiden berlanjut ke tahap review dan 14 keputusan akhirnya diubah.

Data tersebut memperlihatkan bahwa cara kerja VAR efektif mengurangi kesalahan pada momen yang dapat menentukan hasil pertandingan. Meski tidak menjamin semua orang setuju, tim memiliki perlindungan lebih baik dari keputusan awal yang keliru.

2. Membantu Menjaga Keadilan Permainan

Sebelum VAR digunakan, diving, handball, atau pelanggaran sebelum gol bisa luput karena wasit tidak melihat kejadiannya secara utuh.

Kini, peluang insiden tersebut terdeteksi lebih besar. Menurut protokol IFAB, VAR dapat memeriksa rangkaian kejadian yang berkaitan langsung dengan gol atau penalti, termasuk kemungkinan pelanggaran dalam fase serangan sebelumnya.

Kamera tidak otomatis menghentikan pemain melakukan manipulasi. Namun, bukti visual dari berbagai sudut membuat tindakan tersebut lebih sulit disembunyikan.

Manfaatnya terasa besar dalam pertandingan ketat. Satu penalti yang salah atau gol yang seharusnya dianulir dapat mengubah skor, posisi klasemen, bahkan nasib tim dalam sebuah turnamen.

3. Membantu Menindak Pelanggaran yang Luput

Tidak semua pelanggaran terjadi di sekitar bola. Saat wasit fokus mengikuti serangan, pukulan, sikutan, injakan, atau off-the-ball incidents dapat terjadi di area lain.

VAR memungkinkan petugas meninjau serious missed incident, khususnya tindakan yang berpotensi menghasilkan kartu merah langsung. Tayangan ulang membantu wasit melihat titik kontak, arah gerakan, dan tingkat bahaya pelanggaran.

Teknologi ini tidak otomatis membuktikan bahwa jumlah cedera menurun. Namun, peluang pelanggaran keras yang semula terlewat untuk diperiksa dan dijatuhi sanksi menjadi lebih besar.

Kekurangan dan Dampak Negatif Penggunaan VAR

1. Menambah Durasi Pertandingan dan Menurunkan Tempo

Kritik terbesar terhadap VAR berkaitan dengan waktu. Ketika pertandingan dihentikan, tim dapat kehilangan momentum dan penonton harus menunggu tanpa selalu mengetahui apa yang sedang diperiksa.

Menurut studi Spitz dan tim, median pemeriksaan awal VAR berlangsung sekitar 22 detik. Jika wasit perlu melakukan on-field review, median waktunya mencapai 62 detik. Review yang diselesaikan melalui komunikasi dengan ruang VAR memiliki median sekitar 15 detik.

Tidak semua pemeriksaan berlangsung lama. Namun, kejadian rumit dapat membutuhkan beberapa sudut kamera dan diskusi sebelum keputusan dibuat.

Jeda tersebut memengaruhi durasi pertandingan sekaligus tempo permainan. Waktu tambahan memang dapat mengganti menit yang hilang, tetapi tidak selalu mampu mengembalikan ritme pertandingan.

2. Mengganggu Spontanitas dan Pengalaman Penonton

Sepak bola hidup dari reaksi spontan. Ketika gol tercipta, pemain dan pendukung ingin langsung merayakannya tanpa ragu.

VAR mengubah pengalaman itu. Selebrasi sering tertahan karena semua orang menunggu konfirmasi apakah terdapat offside, handball, atau pelanggaran sebelumnya.

Kondisi ini lebih terasa bagi penonton di stadion. Mereka tidak selalu mendapat tayangan ulang atau penjelasan sejelas pemirsa televisi.

Menurut survei Tommy Hamsund dan Nicolas Scelles terhadap 1.350 penggemar Premier League, mayoritas responden masih menerima keberadaan VAR. Namun, mereka menginginkan penggunaan yang lebih baik serta informasi yang lebih jelas di stadion.

Artinya, masalah pengalaman penonton bukan sekadar penolakan terhadap teknologi. Banyak penggemar frustrasi karena prosesnya terasa lambat dan kurang transparan.

3. Keputusan Tetap Mengandung Interpretasi Manusia

Kamera dapat memutar ulang kejadian, tetapi tidak bisa menentukan sendiri apakah sebuah kontak cukup keras atau posisi tangan seorang pemain masih wajar.

Keputusan seperti itu tetap membutuhkan penilaian manusia. Protokol VAR menggunakan prinsip clear and obvious error, yaitu intervensi dilakukan ketika terdapat kesalahan yang jelas dan nyata.

Masalahnya, batas “jelas” tidak selalu dipahami dengan cara yang sama. Wasit, pemain, pelatih, dan penonton dapat melihat tayangan serupa tetapi menarik kesimpulan berbeda.

Dikutip dari penelitian terhadap 515 intervensi VAR di liga utama Belanda, pengalaman, usia, dan status petugas berkaitan dengan kecenderungan mereka merekomendasikan review. Temuan ini memperlihatkan bahwa teknologi tidak sepenuhnya menghapus pengaruh hierarki dan penilaian manusia.

Karena itu, kontroversi VAR dan kontroversi wasit tetap sulit dihindari. Perdebatan mengenai penalti, kartu merah, atau gol yang dianulir pun sering menjadi sorotan utama di berbagai portal berita bola.

Memahami Konteks Keputusan Wasit Secara Utuh

Penonton dapat menilai intervensi VAR dengan empat pertanyaan sederhana:

  1. Apakah insiden berkaitan dengan gol, penalti, kartu merah langsung, atau kesalahan identitas?
  2. Apakah keputusannya bersifat faktual atau membutuhkan interpretasi?
  3. Apakah terdapat clear and obvious error?
  4. Apakah wasit melihat monitor atau hanya menerima informasi dari ruang VAR?

Aturan VAR yang diterapkan FIFA mengacu pada protokol IFAB. Petugas VAR dapat memberikan informasi atau merekomendasikan review, tetapi keputusan akhir tetap berada di tangan wasit utama.

Potongan video singkat sering membuat sebuah insiden terlihat sederhana. Padahal, wasit mungkin perlu menilai fase serangan, posisi pemain lain, titik kontak, dan ketentuan yang berlaku. Untuk memahami konteks keputusan wasit VAR secara lebih utuh, penggemar dapat mengikuti laporan pertandingan dan pembahasannya melalui bolavia, bukan hanya mengandalkan klip singkat yang beredar di media sosial.

Kesimpulan

Pembahasan kelebihan dan kekurangan VAR menunjukkan bahwa teknologi ini mampu meningkatkan akurasi, membantu menjaga keadilan, dan meninjau pelanggaran penting yang luput dari pandangan wasit.

Kelemahannya terletak pada jeda permainan, komunikasi yang belum selalu jelas, dan interpretasi manusia yang tetap memicu perdebatan. VAR adalah alat yang kuat, tetapi penerapannya harus lebih cepat dan konsisten agar keadilan tidak mengorbankan emosi sepak bola.

FAQ Seputar Teknologi VAR

Kapan VAR pertama kali digunakan di Piala Dunia?

VAR pertama kali digunakan pada putaran final Piala Dunia FIFA 2018 di Rusia.

Dalam situasi apa wasit boleh menggunakan VAR?

VAR digunakan untuk meninjau kejadian yang berkaitan dengan gol, penalti, kartu merah langsung, dan kesalahan identitas pemain.

Apakah wasit wajib mengikuti saran petugas VAR?

Tidak. Petugas VAR hanya memberikan informasi atau rekomendasi, sedangkan keputusan akhir tetap berada pada wasit utama.

Mengapa pengecekan offside sering memakan waktu?

Petugas harus menentukan momen bola dimainkan, posisi pemain, bagian tubuh yang relevan, serta kemungkinan pelanggaran dalam fase serangan.

Referensi

de Oliveira, Maiquiel Schmidt, Vilmar Steffen, and Flavio Trojan. “A Systematic Review of the Literature on Video Assistant Referees in Soccer: Challenges and Opportunities in Sports Analytics.” Decision Analytics Journal, vol. 7, 2023, article 100232. ScienceDirect, https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2772662223000723.

Fédération Internationale de Football Association. “FIFA Referee Team to Brief Media after Group Stage.” FIFA, 2018, https://inside.fifa.com/news/fifa-referee-team-to-brief-media-after-group-stage.

Hamsund, Tommy, and Nicolas Scelles. “Fans’ Perceptions towards Video Assistant Referee in the English Premier League.” Journal of Risk and Financial Management, vol. 14, no. 12, 2021, article 573, https://www.mdpi.com/1911-8074/14/12/573.

Spitz, Joachim, et al. “Video Assistant Referees: The Impact of Technology on Decision Making in Association Football Referees.” Journal of Sports Sciences, vol. 39, no. 2, 2021, pp. 147–153, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32794432/.

The International Football Association Board. “Video Assistant Referee Protocol.” Laws of the Game, https://www.theifab.com/laws/latest/video-assistant-referee-var-protocol/.

Penulis Shift Tiga
Penulis Shift Tiga Menjelajahi dunia sinema, tren urban, dan sudut pandang alternatif lewat kacamata Shift Tiga. Baginya, malam hari bukan waktunya tidur, melainkan waktu terbaik untuk membedah budaya populer dan menuliskan hal-hal yang sering terlewatkan saat matahari masih bersinar.

Posting Komentar untuk "Kelebihan dan Kekurangan VAR dalam Sepak Bola Modern"