Software TMS Logistik: Apa Itu & Kapan Bisnis Membutuhkannya?

Masalah logistik jarang muncul sebagai kerugian besar dalam satu hari. Biasanya dimulai dari hal kecil: truk terlambat, invoice lebih mahal dari estimasi, armada sulit dilacak, atau pelanggan terus bertanya status pengiriman.

Jika dibiarkan, semua itu bisa berubah menjadi biaya yang sulit dikendalikan. Dilansir dari Pelindo, berdasarkan perhitungan Bappenas, biaya logistik Indonesia pada 2023 mencapai 14,29% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini menunjukkan bahwa efisiensi distribusi bukan sekadar urusan operasional, tetapi bagian penting dari daya saing bisnis.

Apa Itu Software TMS Logistik?

Panduan lengkap penggunaan software TMS logistik untuk perusahaan.

Software TMS logistik adalah platform digital yang membantu bisnis mengelola transportasi barang dari titik asal ke tujuan. Sistem ini digunakan untuk memilih rute, membandingkan tarif vendor, memantau armada, mengatur jadwal, hingga mengontrol transportation spend secara lebih rapi.

Menurut Inbound Logistics, Transportation Management System (TMS) adalah software untuk mengelola dan mengoptimalkan pergerakan barang, produk, dan suplai dari satu tempat ke tempat lain. Sistem ini menjadi bagian penting dari supply chain karena membantu menekan biaya transportasi dan memperbaiki waktu pengiriman.

Kebutuhan TMS juga terus tumbuh. Dikutip dari laporan Grand View Research, pasar global Transportation Management System diperkirakan bernilai USD 18,56 miliar pada 2025 dan dapat mencapai USD 68,36 miliar pada 2033, dengan CAGR 17,8% pada periode 2026–2033.

Kapan Bisnis Mulai Membutuhkan TMS?

Tidak semua bisnis harus langsung memakai TMS. Namun, sistem manual mulai berisiko jika operasional pengiriman sudah sulit dikontrol.

Tanda-tandanya biasanya terlihat dari hal berikut:

  • Biaya pengiriman naik, tetapi penyebabnya sulit dijelaskan.
  • Status armada masih harus ditanyakan manual ke driver.
  • Rute distribusi semakin banyak dan sulit dipantau.
  • Vendor dipilih karena kebiasaan, bukan data performa.
  • Data pengiriman tersebar di spreadsheet, chat, email, dan dokumen jalan.
  • Selisih biaya estimasi dan aktual sering muncul tanpa analisis jelas.

1. Biaya Pengiriman Terus Membengkak

Biaya pengiriman jarang bocor dari satu titik besar. Biasanya bocor sedikit demi sedikit. Tim memakai vendor yang sama karena sudah terbiasa, rute tidak pernah dievaluasi, armada pulang kosong, lalu biaya tambahan baru terlihat saat invoice datang.

Tanpa TMS, manajer sulit melihat biaya per rute, performa vendor, dan pola pemborosan transportasi secara akurat. Akibatnya, keputusan pengiriman lebih sering berdasarkan intuisi daripada data pengiriman.

Dikutip dari Alpega, ARC Advisory Group mencatat bahwa perusahaan dapat menghemat biaya rata-rata 7,2% setelah menerapkan TMS. Penghematan ini umumnya berasal dari pemilihan tarif yang lebih baik, optimasi rute logistik, dan pengurangan muatan kosong.

2. Armada Sulit Dipantau di Lapangan

Masalah pelacakan armada sering terasa sederhana, tetapi efeknya bisa panjang. Pelanggan bertanya status barang, CS bertanya ke admin, admin bertanya ke driver, lalu semua orang menunggu jawaban.

Jika pola ini sering terjadi, bisnis sedang mengalami masalah shipment visibility. Armada berjalan, tetapi perusahaan tidak punya pandangan real-time atas posisi, status, dan estimasi kedatangan barang.

TMS modern biasanya dilengkapi sistem pelacakan armada atau live-tracking. Fitur ini membantu tim melihat status pengiriman lebih cepat, mengambil tindakan saat ada keterlambatan, dan mengurangi ketergantungan pada laporan manual.

3. Rute Pengiriman Semakin Kompleks

Saat bisnis mulai mengirim ke luar kota, lintas provinsi, atau lintas pulau, pengelolaan manual akan cepat kewalahan. Setiap rute punya tantangan berbeda, mulai dari jarak, kondisi jalan, jadwal keberangkatan, vendor, hingga risiko keterlambatan.

Kompleksitas ini makin terasa di Indonesia. Menurut PwC Indonesia, biaya logistik domestik masih sekitar 14,2% dari PDB, sementara World Bank menempatkan Indonesia di peringkat 61 dari 139 negara dalam Logistics Performance Index 2023.

Sebagai contoh, ketika bisnis menangani rute Sumatera seperti ekspedisi jakarta siak sri indrapura, perusahaan perlu menghitung pilihan armada, estimasi transit, biaya perjalanan, dan risiko keterlambatan dengan lebih teliti.

Hal yang sama berlaku saat mengatur pengiriman lintas provinsi seperti ekspedisi jakarta curup. Tanpa sistem yang rapi, jadwal mudah bentrok, armada tidak optimal, dan biaya aktual bisa berbeda jauh dari estimasi.

Integrasi TMS dengan ERP dan WMS

TMS akan lebih kuat jika terhubung dengan ERP dan WMS. ERP mencatat order, transaksi, pelanggan, dan keuangan. WMS mengatur stok, picking, packing, dan aktivitas gudang. TMS mengatur rute, armada, vendor, biaya transportasi, dan status pengiriman.

IBM menjelaskan bahwa TMS sering tersedia sebagai solusi SaaS dan dapat terhubung dengan sistem ERP atau supply chain management perusahaan. Model cloud-based TMS membuat bisnis lebih mudah mengadopsi sistem tanpa harus membangun infrastruktur IT besar sejak awal.

Alurnya bisa digambarkan sederhana seperti ini:

ERP → WMS → TMS → Pengiriman → Invoice

Dengan integrasi ini, admin tidak perlu mengetik data yang sama berkali-kali. Order dari ERP bisa diteruskan ke gudang, status barang dari WMS membantu jadwal armada, dan data pengiriman dari TMS mempercepat proses invoice.

TMS vs WMS: Apa Bedanya?

Aspek TMS WMS
Fokus utama Transportasi dan distribusi barang Stok dan aktivitas gudang
Area kerja Rute, armada, vendor, biaya, tracking Picking, packing, lokasi barang, stok
Tujuan Mengoptimalkan pengiriman dan biaya transportasi Mengoptimalkan operasional gudang
Data utama Tarif, rute, ETA, status pengiriman SKU, stok, rak, mutasi barang

Kapan Bisnis Belum Perlu Menggunakan TMS?

TMS bukan solusi wajib untuk semua bisnis. Jika volume pengiriman masih kecil, rute masih sedikit, vendor hanya satu atau dua, dan laporan biaya masih mudah dibuat manual, TMS mungkin belum mendesak.

Bisnis juga perlu berhati-hati jika masalah utamanya ada pada SOP internal. Misalnya, tim belum disiplin mencatat pengiriman, format laporan belum seragam, atau data dasar masih berantakan. Dalam kondisi seperti ini, perbaiki prosesnya lebih dulu sebelum membeli software.

Kesimpulan

Software TMS logistik membantu bisnis mengubah logistik dari sekadar pusat biaya menjadi sistem distribusi yang lebih terukur. Dengan TMS, rute bisa dianalisis, vendor bisa dibandingkan, armada bisa dipantau, dan biaya transportasi bisa dikendalikan dengan data.

Namun, TMS bukan jalan pintas untuk semua masalah. Mulailah dari audit sederhana: cek biaya per rute, performa vendor, selisih biaya estimasi dan aktual, serta waktu admin untuk rekap pengiriman. Dari situ, Anda bisa menilai apakah bisnis sudah siap memakai TMS atau masih perlu merapikan SOP terlebih dahulu.

FAQ Seputar Transportation Management System

Apakah TMS hanya untuk perusahaan logistik besar?

Tidak. Kini banyak solusi cloud-based TMS atau SaaS yang lebih mudah diakses oleh bisnis menengah dan UKM.

Apa perbedaan TMS dan WMS?

WMS mengatur stok dan aktivitas barang di gudang. TMS mengatur rute, armada, vendor, dan pengiriman barang menuju atau keluar dari gudang.

Seberapa cepat ROI dari implementasi TMS?

ROI bergantung pada volume pengiriman, kompleksitas rute, jumlah vendor, dan kesiapan data. Studi Forrester untuk Alpega TMS mencatat payback period 8 bulan pada organisasi yang dianalisis, tetapi hasil tiap bisnis bisa berbeda.

Referensi

Alpega Group. “The Benefits of a TMS.” Alpega Group.

Forrester Consulting. “The Total Economic Impact™ of Alpega TMS.” Forrester Consulting.

Grand View Research. “Transportation Management System Market Report, 2033.” Grand View Research.

IBM. “What Is a Transportation Management System?” IBM Think.

Inbound Logistics. “Transportation Management System: Meaning, Importance, and Benefits.” Inbound Logistics, 2025.

Pelindo. “Biaya Logistik di Indonesia Turun 40 Persen Dalam Lima Tahun.” Pelindo, 2023.

PwC Indonesia. “Boosting Logistics Performance.” PwC Indonesia, 2024.

Penulis Shift Tiga
Penulis Shift Tiga Menjelajahi dunia sinema, tren urban, dan sudut pandang alternatif lewat kacamata Shift Tiga. Baginya, malam hari bukan waktunya tidur, melainkan waktu terbaik untuk membedah budaya populer dan menuliskan hal-hal yang sering terlewatkan saat matahari masih bersinar.

Posting Komentar untuk "Software TMS Logistik: Apa Itu & Kapan Bisnis Membutuhkannya?"